Sebuah merek terlihat mendominasi percakapan media sosial. Volumenya jauh di atas pesaing. Kalau berhenti di situ, kesimpulannya jelas: mereka sedang menang, dan tim humas pesaing pantas gelisah.
Saat percakapan itu dibaca lebih dekat, gambarannya berubah. Sekitar sepertiga unggahan tentang merek itu ternyata pesan yang digandakan — kalimat yang sama, dikirim akun berbeda-beda. Merek pembanding lain berada di bawah 6 persen.
Kelompok terbesar berisi 20 akun berbeda yang mengirim kalimat identik pada menit yang sama. Perilaku seperti itu praktis tidak muncul secara alami.
Artinya bagi humas pesaing: tidak perlu panik, dan tidak perlu membakar anggaran mengejar angka yang bukan perhatian publik. Artinya bagi merek itu sendiri: efektivitas kampanyenya perlu diukur ulang dengan angka yang sudah dipisahkan.
Volume yang terlihat seperti perhatian publik, padahal satu pesan yang digandakan, adalah temuan — bukan sekadar angka besar.Prinsip yang kami pakai saat membaca data media sosial